Mahasiswa KKN UMRAH Peduli Terhadap Buta Aksara Di Daerah Kawal

Negara Indonesia masih belum terbebas dari buta aksara. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, secara nasional masih ada sekitar 2,07% atau 3.387.035 jiwa (15-59 tahun) yang buta aksara. Buta aksara adalah sebutan yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan membaca dan menulis yang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penyebab buta aksara adalah karena putus sekolah atau tidak pernah bersekolah sama sekali yang disebabkan oleh faktor budaya, sosial, politik, dan gender. Faktor kemiskinan menjadi faktor utama yang membuat seseorang menjadi buta aksara karena untuk makan sehari-hari masih sulit apalagi untuk mengenyam bangku sekolah. Selain itu, wilayah yang jauh dengan layanan pendidikan juga menjadi faktor seseorang menjadi buta aksara.

Pada kondisi kenyataan nya masih banyak masyarakat pesisir di Kel.Kawal Kec.Gunung Kijang Kab.Bintan yang belum bisa membaca bahkan tidak mengenak huruf dan angka. jumlah angka buta aksara tersebut merupakan sasaran yang tidak mudah untuk diselesaikan. Pasalnya, warga yang buta aksara bermukim di kawasan terpencil dan sulit dijangkau.  Permasalahan lain yaitu orang tua yang menganggap bahwa sekolah itu tidak penting dan menganggap bahwa sekolah adalah perbuatan yang sia-siadan lebih baik menyuruh anak untuk membantu berladang, berternak dan kegiatan lain yang dapat menghasilkan uang.

Berdasarkan pemaparan diatas diketahui bahwa banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi buta aksara. Salah satu contohnya yaitu, faktor ekonomi atau kemiskinan, tidak pernah bersekolah atau putus sekolah, dan jarak tempuh layanan 16 pendidikan yang jauh. Faktor ekonomi atau faktor kemiskinan adalah faktor utama yang menyebabkan buta aksara.

Upaya Membrantas Buta aksara dapat diselesaikan dengan berbagai cara diantaranya sebagai berikut (Syamsiah, 2015:216):

1) Mengurangi jumlah anak yang tidak bersekolah. Pemerintah harus berupaya untuk menekan anak usia sekolah yang tidak sekolah ataupun putus sekolah yang diakibatkan oleh masalah kemiskinan, maupun yang diakibatkan oleh jauh dari layanan Pendidikan atau sekolah.

2) Membuat cara-cara baru dalam proses pembelajaran. Membuat cara-cara yang baru dalam pembelajaran yang asyik dan menyenangkan agar peserta didik tidak bosan dalam belajar dan menjaga kemampuan beraksara bagi peserta didik.

3) Adanya niat baik dan sungguh-sungguh dari pemerintah. Pemerintah harus mempunyai niat yang baik, sungguh-sungguh dan serius untuk memberantas buta huruf untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia.

4) Perlunya keterlibatan berbagai pihak dalam upaya percepatan pemberantasan buta huruf. Pemberantasan buta huruf bukan hanya tugas pemerintah tetapi itu tugas kita semua selaku generasi penerus bangsa.

            Dapat disimpulkan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memberantas buta huruf yaitu mengurangi jumlah anak yang tidak bersekolah, melakukan terobosan ataupun cara-cara baru dalam proses pembelajaran,  adanya kesungguhan dari pemerintah untuk mengentaskan buta huruf dan adanya keterlibatan berbagai pihak dalam percepatan upaya pemberantasan buta huruf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *